Minggu, 28 Desember 2025

MAKNA ALLAH MENYUKAI/MENCINTAI HAMBA-NYA

 


Ketika menafsirkan surah al-Baqarah ayat 222:

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ 

Artinya: "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri."

Syaikh Abu al-Fadhl Senori di dalam Tafsir beliau Tafsir Ayat al- ahkam Min al- Qur'an, beliau berkata: "Ketahuilah bahwa mahabbah (suka/cinta) adalah kecenderungan jiwa (hati) kepada sesuatu yang ia cenderung kepadanya dan yang ia menyesuaikan dengannya, dan itu mustahil atas Allah Ta'ala, dan setiap sifat yang mustahil hakikatnya atas Allah Ta'ala, maka maksudnya adalah tujuannya, dan tujuan mahabbah (suka/cinta) adalah: memberikan pahala dan memuliakan. Maka YUHIBBU pada ayat tersebut maknanya adalah: Memberi pahala dan Memuliakan. 

Referensi: Syaikh Abu al-Fadhl Senori Tafsir Ayat al- ahkam Min al- Qur'an, halaman: 14, Daruttahqiq. 2024.

Senin, 06 Oktober 2025

SYARHIL QUR'AN: MENEGAKKAN KEADILAN HUKUM DI INDONESIA

  السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الرَّحْمٰنِ, اَلَّذِيْ اَنْعَمَ عَلَيْنَا الْقُرْآنَ ,وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍاَحْسَنِ الْاِنْسَانِ, وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ لَهُمْ هِدَايَةُ الْقُرْآنِ. أَمَّـا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالى فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ : أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم .بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. تَبَارَكَ ٱلَّذِى نَزَّلَ ٱلْفُرْقَانَ .

Dewan hakim hakim yang arif dan bijaksana

Hadirin seiman, sekeyakinan sebangsa satu jiwa satu bahasa rohimakumullah.

Di dalam Indonesian Journal of Law Volume 2, Nomor 7, bulan Juni 2025 halaman 165-171 memaparkan tulisan tentang ketimpangan dalam penegakan hukum di Indonesia. Kasus korupsi minyak mentah yang melibatkan pejabat negara menjadi contoh nyata lemahnya keberpihakan  hukum  terhadap  keadilan  sosial.  Kasus korupsi minyak mentah tersebut di ancam penjara minimal 4 tahun, maksimal 20 tahun, denda maksimal Rp1 miliar; dan ancaman tambahan dari TPPU jika terbukti. Sebaliknya, di sisi lain, kasus nenek Asyani seorang perempuan lanjut usia diancam penjara maksimal 5 tahun dan/atau denda hingga Rp 2,5 miliar, hal ini tidak sebanding dengan hanya beberapa batang kayu yang diambil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Hadirin, berdasarkan ungkapan ini kami akan memaparkan Syarahan al- Qur’an yang berjudul: Menegakkan Keadilan Hukum di Indonesia.

Dengan rujukan al- Qur’an Surah ar- Rohman ayat 7-9:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم .بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

وَالسَّمَاۤءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيْزَانَۙ ۝٧ اَلَّا تَطْغَوْا فِى الْمِيْزَانِ ۝٨ وَاَقِيْمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيْزَانَ ۝٩

Artinya: Hamba Berlindung kepada Allah dari godaan Setan yang terkutuk. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Langit telah Dia tinggikan dan Dia telah menciptakan timbangan (keadilan dan keseimbangan), agar kamu tidak melampaui batas dalam timbangan itu. Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi timbangan itu.

Makna al-Mizan pada 3 ayat di atas sebagaimana di sebutkan oleh Ibnu katsir di dalam Tafsirul Qur’anil ‘Azhim adalah adil. Sedangkan makna adil sebagaiman dirumuskan oleh al-Rāghib al-Ashfāni dalam kitabnya al- Mufaradāt Fi gharibil Qur’ān yakni: العدالة والعدل : لفظ يقتضى معنى المساواة (al ‘Adalah wal ‘Adlu: Lafzhun yaqtadhi Ma’nal Musawah: lafaz yang menunjukkan arti persamaan).

Jika kita kaitkan makna keadilan ini dengan 2 kasus hukum tadi, hukum seolah tumpul keatas, tajam ke bawah, rakyat kecil di hukum maksimal, orang besar di hukum minimal, yang lemah di tindas, yang kuat dapat fasilitas. Padahal Islam sangat mengajarkan penegakan keadilan tanpa pandang bulu. Sebagaimana hadits nabi Muhammad  Shollallhu ‘Alaihi Wa Sallam yang di riwayatkan oleh imam Bukhari nomor 6788 dan imam Muslim nomor 1688 yang berbunyi:

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمِ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمِ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ، وَايْمُ اللهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

Artinya: ‘Wahai manusia, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang mulia (memiliki kedudukan) di antara mereka yang mencuri, maka mereka biarkan (tidak dihukum). Namun jika yang mencuri adalah orang yang lemah (rakyat biasa), maka mereka menegakkan hukum atas orang tersebut. Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya,”

Hadirin, berdasarkan laporan World Justice Project (WJP) tahun 2023, peringkat bersih dari korupsi di Indonesia menduduki ranking ke 95 dari 142 negara, peradilan pidana menduduki peringkat 83 dari 142 negara, dan peradilan perdata menduduki peringkat 93 dari 142 negara.

Hal imi harus kita cermati bahwa apapun bentuk tidakan yang melanggar hukum akan ada sanksinya, karena negara kita negara hukum seperti senandung berikut ini:

Negara kita negara hukum

Semua sama di hadapan hukum

Keadilan dan kebenaran

Haruslah di tegakkan

Wahai para penegak hukum

Mengabdilah demi bangsa ini

Janganlah menyalahgunakan

Wewenang ada padamu

Disinilah kita perlu konsisten mengamalkan hadits Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagaimana hadits yang di riwayatkan oleh imam Baihaqi nomor hadits 20.660 berikut ini:

مَنْ طَلَبَ قَضَاءَ الْمُسْلِمِينَ حَتَّى يَنَالَهُ ثُمَّ غَلَبَ عَدْلُهُ جَوْرَهُ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَمَنْ غَلَبَ جَوْرُهُ عَدْلَهُ فَلَهُ النَّارُ

Artinya: "Siapa pun yang menginginkan untuk menjadi hakim, kemudian keadilannya mengalahkan kezalimannya maka baginya surga, dan siapa pun yang kezalimannya mengalahkan keadilannya maka baginya neraka".

Bahkan, berlaku adil akan mendekatkan pelakunya kepada ketaqwaan, sebagaimana di jelaskan di dalam al- Qur’an Surah al- maidah ayat 8:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْاۗ اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ۝٨

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

            Akhirnya, dari syarahan ini kami menyimpulkan:

1.      Adil di dalam hukum adalah persamaan hak dan tidak tebang pilih.

2.      Konsep Islam adalah konsep yang paling ideal dalam penegakan hukum.

3.      Berlaku adil akan mendekatkan seseorang kepada ketaqwaan.

 

Jalan- jalan ke kota Jambi

Mampir di Jamtos membeli alpukat

Demikianlah syarahan kami

Semoga bermanfaat membawa rahmat

 

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُهُ

DOWNLOAD WORD

Kamis, 10 Juli 2025

KETENANGAN DAN KEGELISAHAN HATI

 



KETENANGAN DAN KEGELISAHAN HATI

 اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي شَرَحَ صُدُوْرَ الْمُوَفَّقِيْنَ بِأَلْطَافِ بِرِّهِ وَآلَائِهِ، وَنُوْرِ بَصَائِرِهِمْ بِمُشَاهَدَةِ حُكْمِ شَرْعِهِ وَبَدِيْعِ صَنْعِهِ وَمُحْكَمِ آيَاتِهِ، وَأَلْهَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى، وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا، فَسُبْحَانَهُ مَنْ إِلَهٌ عَظِيْمٌ، وَتَبَارَكَ مَنْ رَبٌ وَاسِعٌ كَرِيْمٌ، وَأَشْهَدُ أَن لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، فِي ذَاتِهِ، وَصِفَاتِهِ، وَأَفْعَالِهِ، وَخَيْرَاتِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَشْرَفُ رُسُلِهِ وَخَيْرِ بَرِيَاتِهِ.

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ فِي غَدَوَاتِ الدَّهْرِ وَرُوحَاتِهِ. أَيُّهَا الْاِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ،

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَهُوَ أَصْدَقُ الْقَائِلِيْنَ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ، أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah.

Judul Khutbah kita adalah:

KETENANGAN DAN KEGELISAHAN HATI

Ketenangan hati di peroleh dengan senantiasa Dzikrullah (mengingat Allah), sebagaimana Firman-Nya di dalam Surah ar- Ra’d ayat 28:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.

Di dalam Zuhratuttafasir di jelaskan bahwa hanya Zikrullah (mengingat Allah) semata tidak mengingat yang lain maka hati menjadi tenang.  Al- Mawardi di dalam kitab tafsir beliau an- Nukat wal ‘Uyun  merinci bidzikrillah (dengan mengingat Allah) menjadi 4 yaitu:

(1) mengingat Allah dengan mulut (menyebut-Nya),

(2) nikmat Allah atas mereka,

(3) janji Allah atas mereka,

(4) dengan al- Qur’an.

Selanjutnya beliau juga menafsirkan maksud mengingat Allah adalah:

(1) Dengan Ta’at kepada Allah,

(2) Dengan pahala dari Allah,

(3) Dengan janji Allah.

Jika ingin memperoleh ketenangan maka keseluruhan maksud Bidzikrillah (dengan mengingat Allah) ini tidak hanya di bibir atau secara zhahir saja, tetapi juga secara batin, haruslah menghadirkan maknanya di dalam jiwa.

Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah.

Salah satu nikmat terbesar dari Allah yang patut kita syukuri bersama adalah ketenangan dalam hati kita semua. Dengan sikap tenang, maka ibadah yang kita lakukan akan lebih khusuk dan lebih fokus kepada Allah swt, sehingga ibadah yang kita lakukan akan menjadi perantara untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada-Nya. Karena itu, Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَاناً مَعَ إِيمَانِهِمْ

Artinya, “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang beriman untuk menambahkan keimanan atas keimanan mereka.” (QS Al-Fath [48]: 4).

Syaikh Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili dalam kitab Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa asy-Syari’ah wa al-Manhaj, ia mengatakan bahwa ayat ini juga mengisyaratkan bahwa sikap tenang merupakan sikap orang-orang beriman, karena semua tindakan dan perbuatannya akan selalu berada dalam bimbingan Allah dan dalam pertolongan-Nya.

Ketenangan itu akan Allah tampakkan jalan keluarnya, hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi kita Muhammad dalam salah satu haditsnya, yaitu:

 إِذَا أَرَدْتَ أَمْرًا فَعَلَيْكَ فِيهِ بِالتُّؤَدَةِ حَتَّى يُرِيَكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْهُ الْمَخْرَجَ

Artinya, “Apabila engkau menghendaki sesuatu, maka engkau harus bersikap tenang, sehingga Allah memperlihatkan kepadamu jalan keluarnya.” (HR Bukhari).

Dalam hadits lain, Rasulullah juga menyebutkan perihal pentingnya sikap tenang, karena tenang akan lebih berpeluang untuk memperoleh kebenaran,

 مَنْ تَأَنَّى أَصَابَ أَوْ كَادَ وَمَنْ عَجَّلَ أَخْطَأَ أَوْ كَادَ

Artinya, “Siapa saja yang bersikap tenang, maka ia akan memperoleh (kebenaran) atau mendekati, dan siapa saja yang terburu-buru maka akan keliru atau mendekati (kekeliruan).” (HR at-Thabrani).

Sedangkan sikap tergesa-gesa akan menjadi penyebab untuk memperoleh kekeliruan, atau mendekatinya, karena sikap tersebut muncul dari watak yang jelek, sehingga juga menghasilkan hasil yang jelek pula, bahkan bisa menghilangkan tujuan dan bisa menjerumuskan pada kemaksiatan,

اَلْاِسْتِعْجَالُ هُوَ الْخَصْلَةُ الْمُفَوِّتَةُ لِلْمَقَاصِدِ الْمُوقِعَةُ فِي الْمَعَاصِي

Artinya, “Sikap terburu-buru merupakan kebiasaan yang bisa menghilangkan tujuan, dan menjerumuskan pada kemaksiatan.”

Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah.

Imam al-Qusyairi di dalam tafsir beliau Lathoiful Isyarat ketika menafsirkan surah ar- Ra’d ayat 28 beliau menyebutkan bahwa: ketika seorang hamba hatinya tidak juga tenang padahal sudah dzikrullah (mengingat Allah), itu di sebabkan karena ada cacat/penyakit di hatinya, maka hatinya tidak termasuk hati yang sehat.

Ketika hati tidak tenang, maka boleh jadi kita termasuk dari orang yang berpaling sebagaimana Surah Thaha ayat 124 berikut ini:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ

Artinya: Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".

Imam Ibnu Katsir menafsirkan makusd ayat ini: “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku.” (Thaha: 124). Yaitu menentang perintah-Ku dan menentang apa yang Kuturunkan kepada rasul-rasul-Ku, lalu ia berpaling darinya dan melupakannya serta mengambil petunjuk dari selainnya. maka sungguh baginya kehidupan yang sempit.” (Thaha: 124)

Yakni kehidupan yang sempit di dunia. Maka tiada ketenangan baginya dan dadanya tidak lapang, bahkan selalu sempit dan sesak karena kesesatannya; walaupun pada lahiriahnya ia hidup mewah dan memakai pakaian apa saja yang disukainya, memakan makanan apa saja yang disukainya, dan bertempat tinggal di rumah yang disukainya.

Sekalipun hidup dengan semua kemewahan itu, pada hakikatnya hatinya tidak mempunyai keyakinan yang mantap dan tidak mempunyai pegangan/petunjuk, bahkan hatinya selalu khawatir, bingung, dan ragu. Dia terus-menerus tenggelam di dalam keragu-raguannya. Hal inilah yang dimaksudkan dengan kehidupan yang sempit.

Akhirnya dapat di simpulkan:

1.       kesimpulan hati yang tenang adalah karena hatinya di penuhi dengan mengingat Allah,

2.       sebaliknya hati yang sempit dan gelisah karena menentang perintah Allah, berpaling darinya dan melupakannya serta mengambil petunjuk dari selainnya.

Demikian khutbah Jumat ini, semoga kita semua selalu diberikan ketenangan dan ketentraman oleh Allah swt dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Amin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.

 

 

 

 

 

 

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

  أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا الْاِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَاناً مَعَ إِيمَانِهِمْ

  إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا .. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

 اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Kamis, 19 Juni 2025

KEUTAMAAN ILMU DAN ORANG YANG BERILMU


 

KEUTAMAAN ILMU DAN ORANG YANG BERILMU

Oleh: Ustadz Firdaus, M.Pd.I

Khutbah pertama:

الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ ٲعطى العلوم عَلَى قُلُوْبِ اْلمُسْلِمِيْنَ المُؤْمِنِيْنَ, وَبہا عملواالصالحات. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ اْلحَقُّ اْلمُبِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ الأَمِيْنِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلمِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ المَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ. أَمَّا بَعْدُ أَيُّهاَ اْلحَاضِرُوْنَ اْلمُسْلِمُوْنَ حَفِظَكُمُ اللهُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ. قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ  .

Hadirin Jama’ah Jum’at رحمكم الله

Judul Khutbah kita adalah:

KEUTAMAAN ILMU DAN ORANG YANG BERILMU

Allah menciptakan kita hidup kemudian mati, adalah sebagai ujian, siapakah yang paling baik amalnya, sebagaimana Firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Mulk ayat 2:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Artinya: “Yang telah menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji diantara kalian siapa yang paling baik amalnya.”

Ibnu Katsir menjelaskan di dalam tafsirnya: bahwa maksudnya adalah amal yang terbaik, bukan amal yang terbanyak. Berdasarkan tafsir ini menjadi jelaslah bahwa kualitas amallah yang menjadi tuntutan. Bagaimana agar kualitas amal menjadi terbaik?

Caranya adalah dengan ilmu. Hanya dengan ilmulah amal menjadi terbaik. Amal itu bisa  berupa amalan hati dan amalan anggota tubuh yaitu keimanan, ibadah dan akhlaq, semuanya bisa menjadi terbaik dan sempurna hanya dengan ilmu, bahkan amalan hati berupa ikhlas sekalipun ada ilmunya.

Karena sangat pentingnya ilmu, maka Imam Bukhari di dalam kitab Shohih Bukharinya mencantumkan suatu bab yaitu:

باب العلم قبل القول والعمل ، لِقَولِ اللهِ تعالى: ﴿ فَأَعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ(

 Bab tentang Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan (amal) berdasarkan firman Allah: “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah”. (Q.S. Muhammad: 19).

Ibnu Abdil Bar di dalam kitabnya Jami’u Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi meriwayatkan hadits tentang ilmu, tepatnya haidts nomor 268, bahwa Rasulullah bersabda:

 هو إمام العمل ، والعمل تابعه

“Ilmu adalah pemimpin amal, dan amal adalah pengikut ilmu.”

Maka wajarlah Allah mengangkat derajat orang yang berilmu, sebagaimana Firman-Nya di dalam surah Al-Mujadilah ayat 11:

 

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ

“Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

Imam asy- Syaukani di dalam tafsirnya Fathul Qodir menafsiri surah Al-Mujadilah ayat 11, beliau menjelaskan:

ومعنى الآية أنه يرفع الذين آمنوا على من لم يؤمن درجات ويرفع الذين أوتوا العلم على الذين آمنوا درجات، فمن جمع بين الإيمان والعلم رفعه الله بإيمانه درجات ثم رفعه بعلمه درجات.

Makna ayat ini adalah bahwasanya Allah mengangkat derajat orang-orang beriman di atas derajat orang yang tidak beriman beberapa derajat, dan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu di atas derajat orang-orang beriman, maka barangsiapa yang menggabungkan iman dan ilmu maka Allah mengangkat derjatnya karena imannya beberapa derajat kemudian di tambah lagi Allah mengangkat derajatnya karena ilmunya beberapa derajat.

Selanjutnya imam al-Qurthubi di dalam tafsirnya Al-Jami' Li Ahkami Al-Qur’an beliau menjelaskan:

  يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجاتٍ) أَيْ فِي الثَّوَابِ فِي الْآخِرَةِ وَفِي الْكَرَامَةِ فِي الدُّنْيَا، فَيَرْفَعُ الْمُؤْمِنَ عَلَى مَنْ لَيْسَ بِمُؤْمِنٍ وَالْعَالِمَ عَلَى مَنْ لَيْسَ بِعَالِمٍ 

Artinya: "(Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan). Maksudnya, meninggikan derajat mereka dalam pahala di akhirat dan dalam kemuliaan di dunia. Jadi, Allah meninggikan derajat orang yang beriman di atas orang yang tidak beriman dan orang yang berilmu di atas orang yang tidak berilmu."

Begitu juga Imam Nawawi Banten dalam tafsir beliau Marah Labid mengutip perkataan Ibnu Mas’ud yang berkaitan dengan ayat ini, yaitu:

 

قال ابن مسعود: مدح الله العلماء في هذه الآية، والمعنى أن الله تعالى يرفع الذين أوتوا العلم على الذين آمنوا ولم يؤتوا العلم درجات في دينهم إذ فعلوا بما أمروا به. وَاللَّهُ بِما تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

 

“Ibnu Mas’ud berkata: ‘Allah memuji para ulama dalam ayat ini. Allah mengangkat derajat orang-orang berilmu dalam agama mereka di atas mukmin yang tidak berilmu, jika mereka melaksanakan perintah-Nya. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan adalah ancaman bagi yang tidak mematuhinya.’” (Marah Labid, [Beirut, Darul Kutub Ilmiyah, 1417 H], Jilid II, hlm. 503).

Dan sungguh beruntung orang yang berilmu, yakni orang faham tentang agama, karena mereka termasuk orang-orang yang Allah kehendaki menjadi baik, sebagaimana hadits Rasulullah Shollallhu ‘Alaihi Wa Sallam yang di riwayatkan oleh imam Bukhari:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

"Barangsiapa yang Allah kehendaki menjadi baik maka Allah memberikan dia pemahaman terhadap agama." (HR Bukhari, nomor:71)

                Bahkan karena sangat pentingnya ilmu ini sampai-sampai Allah memberikan perbedaan yang sangat jelas antara orang yang berilmu dan tidak berilmu, sebagaimana Firman-Nya di dalam Surah Az- Zumar ayat 9:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ

Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (Q.S. Azzumar: 9)

Menafsiri ayat ini Syaikh Wahbah Az- Zuhaili di dalam tafsir al- Wajiznya menjelaskan bahwa: katakanlah hai Muhammad: apakah orang yang alim (tahu) itu sama dengan orang yang bodoh: keduanya tidak sama.

Dari tafsir ini timbul pertanyaan, apakah sama kualitas sholat, puasa, membaca al-Qur’an dan ibadah lainnya antara orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu? Tentu sangat berbeda.

Akhirnya, sebagai penutup, mudah-mudahan ayat, tafsir, dan hadits tadi semakin memotivasi dan memacu kita untuk menyempurnakan ilmu kita tentang syari’at Islam, agar kualitas amal kita semakin meningkat, dan derajat kita di angkat ke derajat yang lebih tinggi dari sebelumnya di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Amin Ya Robbal ‘Alamin.

  بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ اْلكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

 

 

 

 

 

 

 

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلمِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا . وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ  اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ  اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ . رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.  عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

 

 Download File Word

Kamis, 29 Mei 2025

Ajaran Islam Tentang Anak

 

Jamaah jum’at yang dirahmati Allah سبحانه و تعالى

Marilah kita bertaqwa kepada الله dengan sebenar- benar taqwa. Dan salah wujud ketaqwaan adalah menjaga anak dari siksa api neraka. Maka berdasarkan hal ini judul Khutbah Jum’at kita saat ini adalah:

AJARAN ISLAM TENTANG ANAK

Mau membaca lengkap silahkan download filenya:

Download

Senin, 07 April 2025

Khatib Jum'at Tidak Mengutip Hadits Dari Ahli Hadits, Bolehkah Dan Bagaimana Hukumnya?

Khatib Jum'at Tidak Mengutip Hadits Dari Ahli Hadits, Bolehkah Dan Bagaimana Hukumnya?

Ibnu Hajar al-Haitami pernah ditanya terkait khatib yang meriwayatkan banyak hadits tanpa menjelaskan sumbernya, atau periwayatannya. Beliau menjawab: 



ما ذكره من الأحاديث في خطبة من غير أن يبين رواتها أو من ذكرها فجائز بشرط أن يكون من أهل المعرفة في الحديث أو ينقلها من كتاب ملفه كذلك ، وأما الاعتماد في رواية الأحاديث على مجرد رؤيتها في كتاب ليس مؤلفه من أهل الحديث أو في خطب ليس مؤلفها كذلك فلا يحل ذلك



Artinya: “Hadits-hadits yang disebutkan khatib dalam khutbahnya tanpa menjelaskan para perawi atau siapa yang menyebutkannya, itu diperbolehkan dengan syarat bahwa dia adalah orang yang ahli dalam ilmu hadits, atau dia mengutipnya dari penulis yang juga ahli dalam hadits. Adapun mengandalkan periwayatan hadits hanya berdasarkan melihatnya dalam sebuah buku yang penulisnya bukan ahli hadits, atau dalam khutbah yang penulisnya juga bukan ahli hadits, maka itu tidak diperbolehkan!” (Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Haditsiyyah, [Beirut: Darul Fikr, t.t.], hal. 32).



Lebih lanjut Ibnu Hajar al-Haitami juga tegas menyatakan khatib-khatib yang dinilai kurang kompeten sebagaimana keterangan di atas, mesti ditegur. Bahkan jika mengulangi perbuatannya secara berulang maka perlu dilarang menjadi khatib oleh pihak berwenang. Adapun dalam konteks masa Ibnu Hajar al-Haitami, pihak berwenang merupakan pemerintah. (Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Haditsiyyah, [Beirut: Darul Fikr, t.t.], hal. 32).

BACAAN BILAL SHOLAT JUM’AT

 

BACAAN BILAL SHOLAT JUM’AT

1.         Sebelum khotib naik mimbar, bilal mengambil tongkat, kemudian sambil berdiri membaca bacaan berikut ini:

إِنَّ اللهَ وَمَلٰۤئِكَتَهٗ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اللَّـٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّٰاهِرِيْنَ وَسَلِّمْ، وَرَضِيَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَنْ سَادَتِنَا أَصْحَابِ سَيِّدِنَا رَسُولِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، اللَّـٰهُمَّ قَوِّنَا فِي دِيْنِ اْلإِسْلاَمِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى مُعَانِدِيْهِمْ، رَبِّ اخْتِمْ لَنَا بِالْخَيْرِ، وَيَاخَيْرَ النَّاصِرِيْنَ.

2.       Setelah membaca ini, khotib berdiri dan mengambil tongkat yang di pegang oleh bilal.

3.       Setelah itu bilal azan yang ke-2.

4.       Setelah azan dan berdo’a, kemudian bilal duduk mendengarkan khutbah.

5.       Kemudian, setelah khotib membaca khutbah pertama dan duduk diantara dua khutbah, maka bilal membaca dengan nyaring sholawat berikut ini:

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍوَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

6.         Setelah khotib selesai khutbah ke-2, maka bila langsung membaca Iqomah. 

Mau Download file Wordnya? klik berikut ini:

download

MAKNA ALLAH MENYUKAI/MENCINTAI HAMBA-NYA

  Ketika menafsirkan surah al-Baqarah ayat 222: اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ   Artinya: "Sesunggu...